Bisnis Digital
May 26, 2026
Achmad Adelard Aflah Afi Putra, mahasiswa Program Studi Bisnis Digital Fakultas Ilmu Komputer UPN "Veteran" Jawa Timur, berkesempatan mewakili Indonesia dalam forum internasional bergengsi bertajuk "Leaders of Change: Youth, AI, and the Future of Work" yang diselenggarakan di Washington DC, Amerika Serikat, pada Rabu, 13 Mei 2026. Tags:
Leaders of Change
internasional
bisnis digital
youth
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Skills to Succeed (S2S) yang digagas oleh Save the Children, sebuah organisasi kemanusiaan internasional yang berfokus pada pengembangan kapasitas kaum muda. Forum ini merupakan kelanjutan dari rangkaian acara Leaders of Change yang sebelumnya telah sukses digelar di Indonesia dan Italia, dengan mengangkat isu sentral bagaimana kecerdasan buatan (AI) mengubah lanskap ketenagakerjaan generasi muda secara global.
Delegasi Indonesia di Panggung Dunia
Indonesia diwakili oleh tiga delegasi, yakni Achmad Adelard dan Nizha Risalatul Muawwanah selaku Youth Representative, serta Evie Yulianti selaku Director Skills to Succeed Indonesia. Kehadiran delegasi Indonesia bertujuan untuk menyuarakan perspektif dan pengalaman langsung kaum muda dalam perbincangan global seputar AI dan ketenagakerjaan, sekaligus membagikan pelajaran dari implementasi program S2S di Indonesia, termasuk inisiatif yang dipimpin kaum muda dan temuan dari studi longitudinal terbaru.
Forum ini turut dihadiri oleh lebih dari 30 peserta dari berbagai lembaga terkemuka dunia, di antaranya World Bank, CARE, Aspen Institute, IREX, World Vision, IYF, Georgetown University, serta perwakilan dari Pemerintah Washington DC.
Jalannya Acara
Acara yang berlangsung selama kurang lebih lima jam (08.30–13.30 waktu setempat) ini dikemas dalam format yang sangat interaktif. Diawali dengan sesi sambutan dan networking, acara kemudian dibuka secara resmi oleh tim Skills to Succeed Save the Children bersama Michael McCabe, CEO Ignite Collective Leadership, yang juga bertindak sebagai pewawancara delegasi Indonesia dalam sesi penetapan konteks.
Salah satu momen penting adalah sesi wawancara langsung dengan delegasi Indonesia, di mana Achmad Adelard Aflah dan Nizha Risalaul berbagi kisah nyata seputar pengalaman mereka dalam menavigasi dunia kerja di era AI, mulai dari pencarian kerja, pengembangan keterampilan, hingga hambatan yang dihadapi generasi muda dalam mengakses peluang ekonomi yang inklusif, Serta Kesempatan yang diciptakan oleh AI untuk kaum muda dalam perspektif Bisnis Digital melalui Aflah.
Sesi inti acara dilanjutkan dengan Breakout Discussion yang terbagi ke dalam tiga topik: (1) AI untuk Pengembangan Karier, difasilitasi oleh Eric Couper dari IYF; (2) Keterampilan AI untuk Kesiapan Kerja, dipandu oleh Carmen Strigel dari RTI; dan (3) AI untuk Inklusi Ekonomi, yang difasilitasi oleh Julie Perdue. Diskusi kelompok ini berlangsung dalam dua sesi dengan jeda informal networking di antaranya, sebelum diakhiri dengan pemaparan insight dari para fasilitator dan perwakilan muda Indonesia.
Persiapan Matang, Manfaat Maksimal
Sebelum hari-H, delegasi Indonesia telah menjalani serangkaian persiapan intensif. Sejak tiba di Washington DC pada 11 Mei 2026, mereka mengikuti latihan persiapan wawancara, meeting persiapan acara bersama tim Save the Children, hingga dry run wawancara bersama Monica Caminiti, Managing Director Corporate Partnership S2S. Sehari setelah acara, delegasi mengikuti meeting evaluasi dan diskusi lanjutan bersama tim Save the Children sebelum kembali ke Indonesia pada 16 Mei 2026.
Membawa Pulang Semangat Kolaborasi
Keikutsertaan dalam forum internasional ini memberikan manfaat besar bagi delegasi Indonesia. Selain memperluas wawasan mengenai perkembangan AI dalam dunia kerja global, kegiatan ini juga membuka peluang kemitraan lintas negara dan memperkuat posisi Indonesia dalam dialog internasional tentang masa depan ketenagakerjaan pemuda.
Melalui forum ini, suara kaum muda Indonesia, termasuk mereka yang berasal dari kelompok kurang terlayani seperti pemuda NEET, penyandang disabilitas, dan pemuda pedesaan, berhasil dihadirkan di hadapan para pembuat kebijakan dan pemimpin organisasi internasional, membuktikan bahwa perspektif lokal memiliki tempat yang penting dalam percakapan global.